Perkembangan Tole

Ga terasa sekarang Tole udah 13 bulan, alhamdulillah jalannya udah lancar, walau sesekali masih suka terjatuh. Mulai lancar jalan baru kira-kira seminggu ini.

Ada perubahan yang sangat terasa pada diri Tole. Sekarang Tole sudah bukan bayi lagi, sudah menjelma menjadi seorang anak kecil. Yang membuatku terpukau, Tole makin pinter berinteraksi, makin mengerti kalau diajak bicara. Contohnya :

  • Mama : Kuping mana?
    Tole : Pegang kuping
  • Mama : Hidung mana?
    Tole : bengong… bengong
    Mama : Ngup*l gimana?
    Tole : Langsung masukin jari kehidung [haduhhh entah belajar dari mana]
  • Habis kejedut Tole langsung usap-usap kepala dan ngadu ke mama
    Tole : uh uh..
    Mama : Aduhhh kejedut ya.. yang sakit mana?
    Tole : Langsung usap-usap kepala belakang [ga peduli yang kejedut bagian manapun yg diusap selalu kepala belakang :) ]
  • Tole : uh.. uh [sambil menyodorkan tangan kedepan, telapak tangan yang satu dibawah telapak tangan satunya, wajah memelas]
    Mama : Minta apa Nak? [hehe kalo udah begini ga tega kalo ga dikasih]
  • Tole : [Gigit barang bukan makanan]
    Mama : Makan apa itu, dilepeh.. peh peh..
    Tole : [melepeh apapun yang ada dalam mulutnya sambil menjulurkan lidah]
    Mama : [bernafas lega kembali, untung Tole sudah mengerti konsep melepeh ini sejak lama, jadi ga perlu ngorek2 mulutnya dengan paksa kalo Tole makan yang aneh2]
  • Tole : [Mau keluar kamar]
    Mama : Mau kemana? Pake sandalnya dulu dong, ambil sandalnya
    Tole : [Ambil sandal sambil injek sandal dengan maksud mau pake sandal sendiri]
    Mama : Sini mama pakein, duduk dulu disini [sambil nunjuk ujung kasur]
    Tole : [dengan patuh duduk dan nunggu dipakein sandal]
  • Jeleknya kalo mau sesuatu, pasti pake acara teriak2 dan kalo ga dikasih bisa nangis. Dan sangat sulit untuk berbagi barang dengan orang lain. Mama masih cari cara untuk mengajarkan Tole berbagi dan mengurangi sifat ambek-nya itu

Bahagia tak terkira kalo Tole merespon mama, baru sadar kalo Tole sudah gede, sudah bukan bayi lagi :)

Posted in Tole
Leave a comment

Sufor vs ASI

Beberapa waktu yang lalu setelah Tole dinyatakan kurang gizi gara2 berat badannya yang kurang, aku kelimpungan, dan ditengah kebingungan itu akhirnya memberi Tole susu formula. Faktor lingkungan ikut berpengaruh dalam pengambilan keputusanku ini. Hidup ditengah lingkungan awam generasi lama yang masih menganggap susu formula mengandung gizi tinggi, akhirnya pertahananku untuk tetap hanya memberi ASI sampai 2 tahun runtuh juga. Memasuki usia 11 bulan, akhirnya Tole berkenalan dengan susu formula.

Sempet bingung menentukan sufor apa yang paling bagus, yang bisa cepat menambah berat badan, bergizi tinggi dan mengandung berbagai keunggulan lainnya. Tanya sana sini malah makin dilema, dan tidak menemukan satu merk pun yang kira2 cocok buat Tole. Habis menurut pendapat para pengguna sufor, susu itu cocok2an, cocok di anak A belum tentu cocok buat anak B. Akhirnya beli S*6, pertimbangannya cuma 1, menurut cerita Bapak, dulu waktu kecil aku dikasih S*6 itu. Jadi ya mikirnya, kalo ibunya cocok siapa tau Tole juga cocok. Dan alhamdulillah Tole ga ada masalah setelah dikasih S*6 ini. Katanya kan kalo ga cocok BABnya suka keras. Tapi hal itu tak terjadi pada Tole dan Tole doyan2 aja mengkonsumsi sufor kemudian konsumsi ASI. Jadi intinya aku ga mengalami halangan berarti dalam memberikan sufor ini.

Cuma sayang disayang, setelah menghabiskan 2 kotak S*26 @ 400gr, selama hampir 3 minggu, tak ada penambahan dalam berat badan Tole. Akhirnya aku kembali mengambil jalan lurus, back to ASI only. Alhamdulillah sampai Tole 1 tahun ini ASInya selalu mencukupi. Memang ada sih saat2 harus kejar setoran karena stok yang menipis, tapi tak pernah sampai kehabisan.

Kemarin sempat tergoda sufor salah satu penyebabnya juga karena aku berpikir mungkin saja kandungan ASIku jelek, gizinya kurang, jadi Tole ga bisa gemuk. Tapi sekarang tampaknya harus membuang pikiran itu jauh2. InsyaAllah ASI tetap yang terbaik buat Tole.

Barusan juga baru baca artikel seputar memilih sufor yang tepat disini. Dapat banyak ilmu baru. Diantaranya, belum tentu sufor yang mahal adalah pilihan yang paling baik buat bayi kita. Sufor yang mengandung AA DHA, belum tentu ikut membantu perkembangan otak. Karena menurut penelitian, hal tersebut baru menunjukkan hasil yang signifikan pada bayi prematur. Pada bayi yang lahir normal kandungan AA dan DHA tersebut tidak terlalu memberi dampak signifikan. Penambahan prebiotik yang katanya bisa membantu pencernaan juga tidak sehebat yang diiklankan. berikut kutipannya : “Penambahan prebiotik atau sinbiotik untuk memperbaiki saluran cerna bukanlah yang utama. Selama bahan dasar susu formula tersebut bisa diterima saluran cerna, maka penambahan kandungan tersebut tidak terlalu bermanfaat. Sebaliknya meskipun terdapat zat tersebut, tetapi bila beberapa kandungan dalam susu sapi tidak bisa diterima saluran cerna juga tidak akan memperbaiki keadaan. Bila terdapat masalah gangguan saluran cerna berkepanjangan yang penting adalah mencari jenis susu atau makanan lainnya yang dapat mengganggu saluran cerna tersebut.

Berikut kutipan kesimpulan yang juga diambil dari artikel ini :

KESIMPULAN

Pertimbangan utama dalam pemilihan susu yang terbaik bagi anak adalah susu yang sesuai dengan kondisi anak dan tidak mengakibatkan reaksi yang mengganggu fungsi organ tubuhnya.

Pertimbangan lain adalah masalah harga harus disesuaikan dengan ekonomi keluarga serta kesediaan yang mudah dicari dan distribusi yang berkelanjutan di pasaran. Kandungan zat tambahan (AA, DHA, sinbiotik dll), harga mahal, disukai bayi dan merek terkenal bukanlah pertimbangan pemilihan susu yang terbaik bagi anak.

Secara umum semua susu formula yang beredar secara resmi di suatu negara kandungan gizinya sama. Karena mengikuti standard RDA (Recomendation Dietery Allowence) dalam jumlah kalori, vitamin dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Penggunaan apapun merek susu sapi formula yang sesuai kondisi dan usia anak selama tidak menimbulkan gangguan fungsi tubuh adalah susu yang terbaik untuk anak tersebut.

Rasanya tambah ilmu baru setalah baca artikel tersebut. Kesimpulannya, selama masih bisa ngasih ASI tetapkan hati bahwa memang ASI yang terbaik.

Posted in just me, Tole
Leave a comment

Adaptasi Tole

Sudah seminggu ini Tole menjalani hidupnya di tempat penitipan anak. Dan lagi-lagi Tole membuatku terpukau. Begitu cepat adaptasinya ditempat baru.

Day #1 : Tole masih belum mau berbaur dan memilih untuk digendong seharian.
Day #2 : Tole sudah mau mulai main, namun pengasuhnya harus selalu berada disampingnya
Day #3 : Tole sudah mau berbaur dan tidak selalu harus ditemani pengasuhnya

Hanya perlu 3 hari untuk Tole beradaptasi ditempat baru, yang notabene bener2 asing dan tak ada satu orang pun yang dikenalnya. Memang sih sampai hari ini tiap pagi saat aku tinggal Tole masih menangisi kepergianku. Tapi itu tidak lama, setelah dibawa menjauh dan dialihkan perhatiannya (biasanya sih diajak lihat ayam atau kucing) Tole berhenti menangis.

Makasih ya Le, sudah begitu pengertian akan keputusan yang mama ambil

Posted in Tole
Leave a comment

Penitipan Anak

Sudah seminggu ini Tole harus menjalani kehidupan barunya. Sejak Selasa, 4 Oktober yang lalu Tole menjalani hari-harinya di tempat penitipan anak, bahasa kerennya day care. Tapi jangan bayangkan day care ini seperti day care modern yang lengkap dengan segala fasilitas dan teknologi terbaru. day care Tole tergolong sederhana. Hanya sebuah rumah seorang bidan yang juga di fungsikan sebagai tempat penitipan anak. Walaupun bukan penitipan modern yang super canggih namun aku tenang menitipkan Tole disana.

Salah satu alasan yang membuatku sreg menitipkan Tole disana adalah karena pola pengasuhan mereka yang seperti pola pengasuhan ‘rumahan’. Tole tidak diwajibkan memakai popok tiap saat, bisa bermain bebas dihalaman, dan yang terpenting satu anak satu pengasuh, jadi aku yakin kalo Tole tidak kekurangan perhatian disana.

Untuk sebuah penitipan model rumahan, menurutku penitipan ini tergolong mahal juga. Untuk harian mereka membandrol harga 70rb, sedangkan untuk paket mingguan 300rb dan 1jt untuk paket bulanan. Kelebihan pada tempat penitipan ini adalah dengan disediakannya makan dan snak untuk anak serta dicucikannya baju2 Tole. Jadi sudah all in. Pagi2 bawa Tole kesana, dalam keadaan belum mandi dan belum makan. Sore dijemput sudah dalam keadaan rapih dan sudah kenyang.

Hal ini sedikit meringankan tugasku dirumah. Sebelumnya aku harus mengerjakan semua hal itu sendiri. Mulai dari cuci setrika baju Tole, mikirin menu harian dan masak buat Tole, sampai mencuci semua botol susu dan penyimpanan ASI, belum lagi kegiatan bersih-bersih kamar. Semua itu harus aku lakukan rutin tiap hari sepulang kerja. Bersih2 dilakukan sambil nyambi momong Tole. Untuk nyuci dan masak harus nunggu sampai Tole bobo. Walhasil tiap hari badan rasanya remuk redam.

Sejak Tole dipenitipan, kerjaanku banyak terbantu. Pulang kerja bisa full time main sama Tole. Ga perlu lagi terburu-buru membereskan dan membersihkan kamar sebelum main, sampai semua kegiatan wajib yang harus aku lakukan setelah Tole tertidur tak perlu lagi kulakukan.

Kendalanya pentipan ini jauh sekali dari rumah. Lokasinya malah dekat dengan kantorku. Jadi lah tiap hari Tole harus menempuh perjalan jauh tiap pagi dan sore. Untungnya kalau pagi tinggal nunggu bis jemputan didepan gang rumah dan langsung sampai kantor. Dari kantor baru minta antar OB ke tempat penitipan. Pulangnya jemput Tole dari tempat penitipan dan dibawa ke kantor lagi untuk selanjutnya kembali ikut bis jemputan. Cuma rute pulang tidak sama dengan perginya, jadi setelah turun dari bis masih harus nyambung angkot 2 kali. Cukup berat memang, tapi sepertinya Tole cukup menerima keadaan ini. Hampir tiap kali naik bis dan angkot Tole selalu tidur, jadi tidak terlalu repot menjaga Tole dalam perjalanan.

Sebenarnya banyak pihak yang memandang negatif keputusanku ini. Mereka selalu mengedepankan sisi negatif dan kesulitan-kesulitan yang mungkin akan aku alami. But hell with them, they dont have solution for my problem, so i guest i just have to stick with the decision i’ve made and not to listen what they’ve said. I have to believe, Allah will always lead my ways. If there’s a will there’s a way. Ini hanya sebagian fase yang harus aku jalani dalam hidup ini. Dan aku benar-benar bersyukur dianugerahi Tole, seorang malaikat kecil yang begitu mudah beradaptasi dan menerima segala konsekuensi yang harus dialaminya karena keputusan yang aku ambil.

Tole, mama love you so much

Posted in Tole
Leave a comment

Progress Rumah – Lambat Nian

Senin, 10 okt 2011 yang lalu, ayah melakukan kunjungan ke lokasi pembangunan rumah kami, dan yang mencengangkan, TIDAK ADA PROGRES dari kunjungan yang terakhir. Hik hik sedih nian, kenapa ya kok sulit amat untuk memiliki rumah sendiri. Agak dag dig dug juga, kayaknya rencana pindah awal tahun 2012 terancam gagal terlaksana, padahal di surat kontraknya, pihak pengembang harus sudah serah terima kunci tanggal 27 Desember. Tapi melihat progress yang super lambat ini, sangsi juga hal itu bisa terlaksana.

Keinginan untuk memiliki rumah sendiri sudah berusaha kami wujudkan sejak awal tahun 2010. Aku dan suami [eh apa aku doang ya] termasuk tipikal orang yang sulit dalam menentukan suatu pilihan. Untuk memutuskan satu hal, banyakkk banget pertimbangannya. Jadi begitu pada pertengahan 2010 kami membayar DP untuk rumah itu sudah melalui proses pencarian yang super panjang. Tapi ternyata nasib berbicara lain, developer tempat kami memesan rumah tersebut collaps [padahal terhitung developer besar loh!], dan akhirnya memutuskan untuk menjual lokasi rumah kami tersebut ke developer lain. Walhasil DP yang sudah kami bayarkan akhirnya dikembalikan. Proses pengembalian ini juga bukannya tanpa perjuangan. Biasalah, kalau uang sudah masuk ya pasti susah untuk ditarik kembali. Akhirnya uang DP yang sudah kami bayarkan dikembalikan 100%.

Akhir tahun 2010 akhirnya kami kembali melakukan pencarian rumah impian. Setelah kegagalan pada rumah pertama, aku mencoba mencari dimana letak penyebab kegagalan tersebut. Setelah pikir2, apa mungkin ya karena ga dapat restu dari Bapak. Waktu nyari dulu kita emang ga cerita dan minta ijin sama Bapak. Begitu udah DP baru lah kita cerita kalo udah dapet rumah. Akhirnya untuk pencarian kali ini aku selalu cerita tentang perkembangannya sama Bapak.

Bulan Februari 2011, kami menemukan lokasi rumah impian baru, dan melakukan booking fee. Perjalanan untuk mendapatkan KPR pun cukup berliku, mulai dari pengajuan ke BN*, BR* sampai akhirnya KPR di BT*. Sebenarnya aplikasi KPR kami sudah disetujui oleh BN*, tapi karena kelalaian pihak marketing developer yang terlambat merespon tanggapan dari bank tersebut akhirnya kami harus melalukan pengajuan ulang. Karena proses pengajuan ulang yang memakan waktu, akhirnya kami memutuskan untuk KPR di BT* saja yang juga sudah disetujui. Saat itu 27 Juni 2011, aku menandatangani akad kredit. Pada penandatanganan tersebut dinyatakan bahwa pihak developer sudah harus serah terima kunci maksimal 6 bulan sejak akad kredit.

And here we are, 3.5 bulan sudah berlalu sejak akad kredit, dan progresnya masih saja lambat. Padahal sama developernya sudah ganti kontraktor 3 kali, tapi tetap saja pembangunan tersendat.
Padahal rumah yang kami beli tergolong mahal dikelasnya, tapi tetap saja pembangunan tersendat.
Padahal kami selalu lancar melakukan pembayaran, tapi tetap saja pembangunan tersendat.
Padahal kami selalu rajin melalukan koordinasi dengan sang mandor, tapi tetap saja pembangunan tersendat.
Padahal … padahal…. Tapi… tapi….

Hufttt……. bingung, masih belum menemukan penyebab sulitnya kami mewujudkan impian untuk memiliki rumah sendiri. Mengapa oh mengapa………..

Posted in Rumah Idaman
2 Comments