Beberapa waktu yang lalu setelah Tole dinyatakan kurang gizi gara2 berat badannya yang kurang, aku kelimpungan, dan ditengah kebingungan itu akhirnya memberi Tole susu formula. Faktor lingkungan ikut berpengaruh dalam pengambilan keputusanku ini. Hidup ditengah lingkungan awam generasi lama yang masih menganggap susu formula mengandung gizi tinggi, akhirnya pertahananku untuk tetap hanya memberi ASI sampai 2 tahun runtuh juga. Memasuki usia 11 bulan, akhirnya Tole berkenalan dengan susu formula.
Sempet bingung menentukan sufor apa yang paling bagus, yang bisa cepat menambah berat badan, bergizi tinggi dan mengandung berbagai keunggulan lainnya. Tanya sana sini malah makin dilema, dan tidak menemukan satu merk pun yang kira2 cocok buat Tole. Habis menurut pendapat para pengguna sufor, susu itu cocok2an, cocok di anak A belum tentu cocok buat anak B. Akhirnya beli S*6, pertimbangannya cuma 1, menurut cerita Bapak, dulu waktu kecil aku dikasih S*6 itu. Jadi ya mikirnya, kalo ibunya cocok siapa tau Tole juga cocok. Dan alhamdulillah Tole ga ada masalah setelah dikasih S*6 ini. Katanya kan kalo ga cocok BABnya suka keras. Tapi hal itu tak terjadi pada Tole dan Tole doyan2 aja mengkonsumsi sufor kemudian konsumsi ASI. Jadi intinya aku ga mengalami halangan berarti dalam memberikan sufor ini.
Cuma sayang disayang, setelah menghabiskan 2 kotak S*26 @ 400gr, selama hampir 3 minggu, tak ada penambahan dalam berat badan Tole. Akhirnya aku kembali mengambil jalan lurus, back to ASI only. Alhamdulillah sampai Tole 1 tahun ini ASInya selalu mencukupi. Memang ada sih saat2 harus kejar setoran karena stok yang menipis, tapi tak pernah sampai kehabisan.
Kemarin sempat tergoda sufor salah satu penyebabnya juga karena aku berpikir mungkin saja kandungan ASIku jelek, gizinya kurang, jadi Tole ga bisa gemuk. Tapi sekarang tampaknya harus membuang pikiran itu jauh2. InsyaAllah ASI tetap yang terbaik buat Tole.
Barusan juga baru baca artikel seputar memilih sufor yang tepat disini. Dapat banyak ilmu baru. Diantaranya, belum tentu sufor yang mahal adalah pilihan yang paling baik buat bayi kita. Sufor yang mengandung AA DHA, belum tentu ikut membantu perkembangan otak. Karena menurut penelitian, hal tersebut baru menunjukkan hasil yang signifikan pada bayi prematur. Pada bayi yang lahir normal kandungan AA dan DHA tersebut tidak terlalu memberi dampak signifikan. Penambahan prebiotik yang katanya bisa membantu pencernaan juga tidak sehebat yang diiklankan. berikut kutipannya : “Penambahan prebiotik atau sinbiotik untuk memperbaiki saluran cerna bukanlah yang utama. Selama bahan dasar susu formula tersebut bisa diterima saluran cerna, maka penambahan kandungan tersebut tidak terlalu bermanfaat. Sebaliknya meskipun terdapat zat tersebut, tetapi bila beberapa kandungan dalam susu sapi tidak bisa diterima saluran cerna juga tidak akan memperbaiki keadaan. Bila terdapat masalah gangguan saluran cerna berkepanjangan yang penting adalah mencari jenis susu atau makanan lainnya yang dapat mengganggu saluran cerna tersebut.“
Berikut kutipan kesimpulan yang juga diambil dari artikel ini :
KESIMPULAN
Pertimbangan utama dalam pemilihan susu yang terbaik bagi anak adalah susu yang sesuai dengan kondisi anak dan tidak mengakibatkan reaksi yang mengganggu fungsi organ tubuhnya.
Pertimbangan lain adalah masalah harga harus disesuaikan dengan ekonomi keluarga serta kesediaan yang mudah dicari dan distribusi yang berkelanjutan di pasaran. Kandungan zat tambahan (AA, DHA, sinbiotik dll), harga mahal, disukai bayi dan merek terkenal bukanlah pertimbangan pemilihan susu yang terbaik bagi anak.
Secara umum semua susu formula yang beredar secara resmi di suatu negara kandungan gizinya sama. Karena mengikuti standard RDA (Recomendation Dietery Allowence) dalam jumlah kalori, vitamin dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Penggunaan apapun merek susu sapi formula yang sesuai kondisi dan usia anak selama tidak menimbulkan gangguan fungsi tubuh adalah susu yang terbaik untuk anak tersebut.
Rasanya tambah ilmu baru setalah baca artikel tersebut. Kesimpulannya, selama masih bisa ngasih ASI tetapkan hati bahwa memang ASI yang terbaik.