Seminggu belakang ini di berita sedang marak tentang mewabahnya hepatitis di daerah Depok dan Bandung. Dan diriku yang tidak berdomisili dikedua tempat tersebut, ikut-ikutan terjangkit.
Derita diawali pada senin pagi, 6 November yang lalu. Badan tiba-tiba meriang dan menggigil ringan. Waktu itu cek ke klinik kantor, setelah diperiksa, dibilang penyebab menggigil mungkin karena akan demam tinggi. Dikasih obat paracetamol, antibiotik, vit c dan permen tenggorokan, karena waktu itu memang agak flu. Dokternya berpesan untuk istirahat, dan kalo demam paeacetamolnya diminum, sementara antibiotiknya ditunda dulu sampe esok hari, kalo keadaan memburuk baru diminum. Hari senin itu akhirnya cuma minum paracetamol dan menggigilnya mereda.
Selasa pagi, dengan kondisi yang masih kurang fit, nekad nganter anak dengan bonceng motor. Setelah anter ternyata kondisi drop lagi dan kembali menggigil. Akhirnya kembali minum paracetamol dan seharian benar-benar bed rest. Hari itu aku dan ayah memutuskan untuk menginap di wisma dekat tempat penitipan Tole, biar antar jemputnya ga jauh dan diriku bisa istirahat total.
Rabu pagi, kondisi sudah terasa enakan, nekad mandi pake acara keramas. Abis tu sarapan di wisma. Saat sarapan ayah pamit untuk anter Tole. Belum selesai sarapan kok kembali merasa dingin, dan tak lama kemudian mulai menggigil. Langsung menghentikan sarapan dan bergegas kekamar. Ternyata pas dikamar badan menggigil hebat. Baru kali ini merasakan menggigil yang begitu dasyat. Badan bergetar tak terkontrol. Dalam kondisi demikian berusaha untuk telpon ayah, dengan susah payah, karena butuh usaha ekstra untuk pegang HP dan dial nomor. Ternyata oh ternyata HP ayah tidak aktif. Badan bergetar makin tak terkontrol, terasa dingin sangat, walau sudah berselimut tebal, rasa dingin tak hilang. Bahkan untuk minum paracetamolnya pun tak sanggup, karena saking kencangnya menggigil sampe ga bisa pegang obat. Untungnya tak berapa lama kemudian Ayah datang. Dibantu ayah minum paracetamol, diselimuti dan ditindih bantal guling biar terasa hangat. Tak lama kemudian kondisi mulai membaik, rasa dingin mulai hilang dan menggigil mulai mereda.
Setelah kejadian menggigil hebat itu mulai was-was. Kayaknya bukan sakit ‘biasa’ nih. Karena sejak awal mengira paling sakit flu atau masuk angin. Rundingan dengan ayah, waktu itu sempat memutuskan untuk periksa ke rumah sakit dan biar rawat sekalian. Tapi pertimbangannya kalo dirawat bagaimana dengan nasib Tole. Sampe usia satu tahun ini, tak pernah satu malam pun Tole tidur tanpa mama. Dilema, ga tega rasanya meninggalkan Tole. Akhirnya demi kebaikan Tole, kami pun memutuskan untuk sementara periksa di klinik dekat wisma saja.
Awalnya dokter curiga demam berdarah atau thypus. Ternyata setelah cek darah kadar trombositnya normal, dan indikasi thypus negatif, sementara nilai SGOT dan SGPT nya tinggi (untuk wanita batas atas SGPT dan SGOT 31 sementara diriku 84 dan 100). Dokter mendiagnosa diriku terkena hepatitis. Untuk mengetahui itu hepatitis apa, harus ada pemeriksaan darah lebih lanjut dan katanya sih biayanya cukup tinggi. Untuk sementara diriku dikasih obat antibiotik dan hepa protektor. Lima hari kemudian diminta untuk kembali cek darah untuk melihat kadar SGOT dan SGPTnya.
Salah satu cara cepat untuk menyembuhkan hepatitis selain minum hepa protektor juga disarankan untuk minum temulawak, dan yang pasti harus istirahat total. Dengan alasan istirahat total ini sebenarnya aku disarankan untuk dirawat saja. Tapi atas nama kepentingan Tole aku menolak untuk dirawat. Akhirnya memutuskan untuk memperpanjang menginap di wisma. Jadi dari pagi sampe magrib Tole di penitipan, setelah itu pulang dibawa ke wisma, main-main sama ayah abis tu tidur dikelonin mama, paginya kembali diantar ke penitipan. Jadi praktis dalam satu hari itu tugas mama cuma ngelonin Tole bobo aja.
Setelah 5 hari beristirahat kondisi mama mulai membaik, masih agak lemas, tapi sudah tidak pernah menggigil lagi. Dan senin kemarin kembali cek darah. Alhamdulillah SGOT nya sudah normal, tinggal SGPTnya yang masih diatas batas normal sedikit.
Salah satu penyebab hepatitis ini adalah kecapean akut. Memang sih idul adha kemarin agak memaksakan diri untuk masak dan bersih-bersih. Badan capek ga dirasa, ya akhrinya tumbang deh.
Pesan moralnya, harus bisa mengukur kemampuan diri, ga boleh terlalu ngoyo, kalo sudah terlalu lelah ya istirahat. Pas sakit kemarin terasa sekali besarnya peran seorang ibu. Begitu ibu sakit, anak suami dan rumah langsung tak terurus. Bukan maksud mengecilkan peranan para Ayah, Ayah Tole pun benarnya hebat dalam urusan beres-beres dan ngajak Tole main, tapi tetap saja tidak bisa menggantikan peran seorang ibu secara penuh.