Progress Rumah – Almost Done

Akhirnya seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, pembangunan rumah kami mengalami keterlambatan. Seharusnya, sesuai perjanjian yang tertuang saat akad kredit, hari ini 27 Desember 2011 sudah harus dilakukan serah terima kunci, tapi kenyataannya hari ini rumah kami masih dalam tahap pembangunan.

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya disini, pembangunan rumah kami mengalami beberapa hambatan, sampe harus tukar 4 kontraktor. Kontraktor terakhir baru mulai bekerja pertengahan bulan november kemarin. Dan alhamdulillah pekerjaan mereka bagus, beda sekali dengan 3 kontraktor sebelumnya. Yang paling parah, kontraktor ke-3, mereka pasang bata sembarangan, pasangannya sampai melengkung. Yang kena imbasnya adalah kontraktor terakhir ini, untuk membuat tembok rata mereka terpaksa memplester tembok dengan ketebalan yang bisa bikin geleng kepala :D . Rugi? Ya jelas, mereka harus keluar lebih banyak pasir dan semen. Untuk kami, ya menguntungkan, tembok jadi tebal dan kuat. Eh ada kerugian juga sih di kami, karena tembok yang tebal, ruangan jadi sedikit lebih sempit dan pekerjaannya jadi tambah lama, tapi tak apalah, untuk sebuah hasil yang lebih bagus.

Terakhir cek progres pembangunan, kira-kira satu minggu yang lalu, tanggal 21 Desember, saat itu plester sudah hampir selesai semua, dan sedang dibangun tangga menuju lantai atas. Berikut foto-fotonya :

tampak depan rumahpembangunan tangga

Progress Rumah Per 21 Desember 2011

Seharusnya minggu-minggu ini aku ke lokasi lagi untuk cek progress pembangunan, hik hik tapi kok malesss yah. Pertama karena harus cek sendirian, ayah lagi tugas lapangan, jadi semua urusan pembaguan rumah ini diserahkan padaku. Alasan kedua karena aku ga gitu ngerti masalah bangun membangun rumah, jadi ngecek juga percuma, ga ngerti bangian mana yang salah. Alasan ketiga, karena aku orangnya ga tegaan, jadi kalo pun ada bagian yang salah biasanya ga tega untuk ngomel-ngomel dan berusaha untuk memaklumi. Huffff susah memang jadi orang baik hati :D

Yah mudah-mudahan saja semua berjalan lancar. Tak ada lagi gonta-ganti kontraktor. Moga cepat selesai dan hasilnya yang terbaik.

Posted in Rumah Idaman
Leave a comment

Hutang Piutang

Kira-kira setengah tahun yang lalu aku dan suami memberikan pinjaman uang kepada seorang teman yang belum lama kami kenal. Waktu itu dia berjanji untuk mengembalikan uang tersebut dalam tempo 1 bulan. Bilangnya uang tersebut untuk membantu belanja modal bengkel suami. Walau belum lama kenal, kami manaruh kepercayaan kepadanya. Salah satu sebabnya karena dia terkesan alim dan rajin ibadah.

Namun setelah jalan tiga bulan tidak ada tanda-tanda pengembalian. Aku memintanya untuk ketemu dan membicarakan hal tersebut. Saat bertemu dia minta maaf dan minta perpanjangan waktu pinjaman, karena uang yang sedianya diperuntukkan untuk membayar hutangku terpakai untuk keperluan orang tuanya. Saat itu aku hanya bisa maklum dan menghargai kejujurannya. Toh saat itu aku juga belum terlalu membutuhkan uang tersebut jadi tidak masalah kalau waktu pinjamannya diperpanjang.

Waktu berjalan lagi, sudah 5 bulan berlalu. Aku kembali menagihnya. Saat ketemu kali ini lagi-lagi ia bilang belum bisa membayar, dengan berbagai macam alasan baru yang dia uangkapkan. Saat itu aku sudah agak gusar, karena lagi-lagi dia bilang uang yang sedianya untuk membayar hutangku lagi-lagi terpakai untuk keperluan lain. Aku berpikir kalau seperti ini terus sampai kapan ia akan bayar hutang. Kok hutangku dikesampingkan terus. Aku memaksa untuk segera membayar hutangku, minimal dengan cara dicicil. Dan mendesaknya untuk cari pinjaman ditempat lain kalau memang dia belum punya kemampuan untuk membayar hutangku. Dulu saat pertama mengajukan pinjaman tersebut, ia memberikan jaminan berupa surat tanah. Dan saat aku kali ini aku memintanya untuk mencari pinjaman ditempat lain, ia meminta untuk pinjam surat tanahnya dulu, agar bisa dijadikan jaminan ditempat lain. Dan karena kepercayaanku yang saat itu masih belum luntur, aku memberikan surat tanah tersebut.

Waktu kembali berlalu. Sejak kukembalikan surat tanahnya, praktis aku tidak punya jaminan apa-apa atas pinjamannya. Karena tidak ada kabar aku berusaha untuk telpon dan sms. Namun semua usahaku sia-sia. Tak ada satu sms pun yang dibalas dan tak ada telponku yang dijawab.

Kesabaran yang kupunya semakin menipis. Kok jadi begini, kan waktu pinjam juga baik-baik, kok sekarang malah menghilang. Setidaknya kalau memang belum ada kemampuan untuk membayar kan bisa bicara baik-baik, atau setidaknya bisa mencicil dikit-dikit. Sepertinya tidak ada itikad baik yang ia tunjukkan.

Karena bingung bagaimana lagi caranya menagih, akhirnya aku mengingatkannya untuk melibatkan tempatnya bekerja kalau ia belum menemuiku juga. Dan peringatanku itu juga tidak digubris. Akhirnya aku menemui atasan tempat ia bekerja. Menceritakan duduk perkara, dan meminta bantuannya apabila ada komisi yang akan diterima aku minta untuk tidak langsung diberikan kepadanya, melainkan diprioritaskan untuk membayar hutangku terelebih dahulu. Beruntung atasannya tersebut mau membantu.

Tapi saat atasannya membicarakan hal tersebut, tak disangka ia malah menjelek-jelekkan diriku. Sedih juga waktu dengar cerita tersebut. Kok begini rupa balasan atas kebaikan yang sudah kami berikan. Jujur kami tidak meminta balas budi atau penghormatan berlebih atas bantuan yang sudah kami berikan. Tapi setidaknya jangan perlakukan kami seperti ini.

Atasannya tersebut menyarankan untuk mendatangi rumahnya saja dan kembali meminta jaminan karena dilihat dari gelagatnya sudah tidak ada itikad baik yang ditunjukkan. Saat aku mendatangi rumahnya, hanya bertemu dengan sang suami, dan diluar dugaan sang suami tidak tahu perihal pinjaman yang diajukan istrinya. Loh waktu itu katanya untuk membantu bengkel suami. Entah sang istri yang berbohong atau sang suami yang menutupi kebohogan istrinya. Saat itu aku hanya bisa mengingatkan diri, lain kali jangan terlalu cepat percaya dengan orang lain.

Setelah kejadian aku mengunjungi rumahnya, tak ada progress yang berarti. Jaminan tak kudapat, si peminjam juga masih tidak balas sms dan telpon, sedangnya si suami malah menyerahkan masalah ini kepada atasan istrinya. Lhaaa kok jadi begini, siapa yang pinjam siapa yang bertanggung jawab?!

Akhirnya cuma bisa pasrah. Jalan satu-satunya tinggal menunggu komisi ditempat ia bekerja dan berharap komisi-komisi tersebut bisa melunasi hutangnya. Saat itu berpikir, tak apa pelan-pelan yang penting akhirnya terbayar. Baru saja harapan itu terucap, malah dapat kabar kalau ia resign dari tempatnya bekerja, padahal saat itu komisi yang ia dapat belum ada setengah dari hutangnya. Duhhh…

Dan kali ini aku benar-benar pasrah, berserah diri sepenuhnya sama Yang Diatas. Ditengah penyerahan diri ini, doaku terjawab. Tanpa disangka ternyata ia dapat komisi dari penjualan yang sudah berbulan-bulan lalu dilakukan, kabar ini kudapat beberapa hari yang lalu dari atasannya, bahkan ia sendiri tidak tahu kalau ia dapat komisi. Alhamdulillah akhirnya hutang tersebut bisa dilunasi. Sampai saat terakhir pun tak ada kabar yang kuterima darinya. Jangankan ucapan terima kasih, ucapan maaf pun tak ada.

Pelajaran yang dapat dipetik :

  1. Jangan terlalu mudah percaya dengan orang lain
  2. Saat merasa tak ada jalan, serahkan semuanya kepada Yang Diatas, Ia akan memberikan jalan keluar yang terindah, bahkan seringkali diluar nalar kita
  3. Iklas dan bersabar dalam menghadapi setiap masalah
  4. Jangan memberi pinjaman kalau tidak punya kemampuan untuk menagih, karena menagih merupakan kewajiban
Posted in Kisah Hidup
2 Comments

Pengasuh Tole

Sudah hampir 2 bulan Tole menghabiskan harinya di tempat penitipan anak atau bahasa kerennya Day Care. Dan aku merasa beruntung bisa menemukan tempat penitipan seperti yang satu ini. Ditempat penitipan ini satu anak dijaga oleh seorang pengasuh. Dan lucunya setiap anak punya pengasuh favorit masing-masing, biasanya sih mereka langsung lengket dengan orang pertama yang menggendong mereka saat pertama kali datang kesana. Ditempat itu kadang pengasuh ini sengaja di rotasi, dalam artian, ditukar-tukar, dengan maksud untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap 1 orang pengasuh tertentu. Tapi ternyata tetap saja, walau sudah ditukar-tukar, tiap anak tetap punya satu pengasuh favorit.

Begitu juga dengan Tole. Pas pertama kali datang Tole digendong oleh seorang pengasuh bernama Bu Tasrip. Ibu yang satu ini sudah berumur, namun masih sehat. Dan mulai hari itu seperti ada ikatan batin diantara dua orang ini, Tole dan Bu Tasrip. Bahkan pagi saat berpisah dengan mama di penitipan Tole tidak pernah menangisi kepergian mama kalau digendong bu Tasrip, beda kalo digendong pengasuh lain, pasti ada acara nangisnya dulu.

Yang membuatku makin tenang meninggalkan Tole dipenitipan karena sosok bu Tasrip ini. Ibu yang satu ini adalah seorang ibu dari dua orang anak lulusan iniversitas negeri, suaminya pun seorang peneliti di lembaga pemerintahan. Jadi alasan bu Tasrip mengasuh anak bukan karena faktor ekonomi tapi memang karena suka anak kecil. Disamping itu memang sudah tidak ada lagi yang bisa diurus. Anak sudah besar-besar, bahkan sudah tidak tinggal satu rumah lagi karena bekerja diluar kota. Dengan keberhasilan bu Tasrip mendidik anaknya, aku merasa percaya menitipkan Tole dibawah pengasuhannya.

Melalui sosok bu Tasrip ini Tole seperti menemukan sosok seorang nenek. Mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seorang nenek.

Posted in Tole
Leave a comment

Hepatitis

Seminggu belakang ini di berita sedang marak tentang mewabahnya hepatitis di daerah Depok dan Bandung. Dan diriku yang tidak berdomisili dikedua tempat tersebut, ikut-ikutan terjangkit.

Derita diawali pada senin pagi, 6 November yang lalu. Badan tiba-tiba meriang dan menggigil ringan. Waktu itu cek ke klinik kantor, setelah diperiksa, dibilang penyebab menggigil mungkin karena akan demam tinggi. Dikasih obat paracetamol, antibiotik, vit c dan permen tenggorokan, karena waktu itu memang agak flu. Dokternya berpesan untuk istirahat, dan kalo demam paeacetamolnya diminum, sementara antibiotiknya ditunda dulu sampe esok hari, kalo keadaan memburuk baru diminum. Hari senin itu akhirnya cuma minum paracetamol dan menggigilnya mereda.

Selasa pagi, dengan kondisi yang masih kurang fit, nekad nganter anak dengan bonceng motor. Setelah anter ternyata kondisi drop lagi dan kembali menggigil. Akhirnya kembali minum paracetamol dan seharian benar-benar bed rest. Hari itu aku dan ayah memutuskan untuk menginap di wisma dekat tempat penitipan Tole, biar antar jemputnya ga jauh dan diriku bisa istirahat total.

Rabu pagi, kondisi sudah terasa enakan, nekad mandi pake acara keramas. Abis tu sarapan di wisma. Saat sarapan ayah pamit untuk anter Tole. Belum selesai sarapan kok kembali merasa dingin, dan tak lama kemudian mulai menggigil. Langsung menghentikan sarapan dan bergegas kekamar. Ternyata pas dikamar badan menggigil hebat. Baru kali ini merasakan menggigil yang begitu dasyat. Badan bergetar tak terkontrol. Dalam kondisi demikian berusaha untuk telpon ayah, dengan susah payah, karena butuh usaha ekstra untuk pegang HP dan dial nomor. Ternyata oh ternyata HP ayah tidak aktif. Badan bergetar makin tak terkontrol, terasa dingin sangat, walau sudah berselimut tebal, rasa dingin tak hilang. Bahkan untuk minum paracetamolnya pun tak sanggup, karena saking kencangnya menggigil sampe ga bisa pegang obat. Untungnya tak berapa lama kemudian Ayah datang. Dibantu ayah minum paracetamol, diselimuti dan ditindih bantal guling biar terasa hangat. Tak lama kemudian kondisi mulai membaik, rasa dingin mulai hilang dan menggigil mulai mereda.

Setelah kejadian menggigil hebat itu mulai was-was. Kayaknya bukan sakit ‘biasa’ nih. Karena sejak awal mengira paling sakit flu atau masuk angin. Rundingan dengan ayah, waktu itu sempat memutuskan untuk periksa ke rumah sakit dan biar rawat sekalian. Tapi pertimbangannya kalo dirawat bagaimana dengan nasib Tole. Sampe usia satu tahun ini, tak pernah satu malam pun Tole tidur tanpa mama. Dilema, ga tega rasanya meninggalkan Tole. Akhirnya demi kebaikan Tole, kami pun memutuskan untuk sementara periksa di klinik dekat wisma saja.

Awalnya dokter curiga demam berdarah atau thypus. Ternyata setelah cek darah kadar trombositnya normal, dan indikasi thypus negatif, sementara nilai SGOT dan SGPT nya tinggi (untuk wanita batas atas SGPT dan SGOT 31 sementara diriku 84 dan 100). Dokter mendiagnosa diriku terkena hepatitis. Untuk mengetahui itu hepatitis apa, harus ada pemeriksaan darah lebih lanjut dan katanya sih biayanya cukup tinggi. Untuk sementara diriku dikasih obat antibiotik dan hepa protektor. Lima hari kemudian diminta untuk kembali cek darah untuk melihat kadar SGOT dan SGPTnya.

Salah satu cara cepat untuk menyembuhkan hepatitis selain minum hepa protektor juga disarankan untuk minum temulawak, dan yang pasti harus istirahat total. Dengan alasan istirahat total ini sebenarnya aku disarankan untuk dirawat saja. Tapi atas nama kepentingan Tole aku menolak untuk dirawat. Akhirnya memutuskan untuk memperpanjang menginap di wisma. Jadi dari pagi sampe magrib Tole di penitipan, setelah itu pulang dibawa ke wisma, main-main sama ayah abis tu tidur dikelonin mama, paginya kembali diantar ke penitipan. Jadi praktis dalam satu hari itu tugas mama cuma ngelonin Tole bobo aja.

Setelah 5 hari beristirahat kondisi mama mulai membaik, masih agak lemas, tapi sudah tidak pernah menggigil lagi. Dan senin kemarin kembali cek darah. Alhamdulillah SGOT nya sudah normal, tinggal SGPTnya yang masih diatas batas normal sedikit.

Salah satu penyebab hepatitis ini adalah kecapean akut. Memang sih idul adha kemarin agak memaksakan diri untuk masak dan bersih-bersih. Badan capek ga dirasa, ya akhrinya tumbang deh.

Pesan moralnya, harus bisa mengukur kemampuan diri, ga boleh terlalu ngoyo, kalo sudah terlalu lelah ya istirahat. Pas sakit kemarin terasa sekali besarnya peran seorang ibu. Begitu ibu sakit, anak suami dan rumah langsung tak terurus. Bukan maksud mengecilkan peranan para Ayah, Ayah Tole pun benarnya hebat dalam urusan beres-beres dan ngajak Tole main, tapi tetap saja tidak bisa menggantikan peran seorang ibu secara penuh.

Posted in just me, Kesehatan
2 Comments

Perkembangan Tole

Ga terasa sekarang Tole udah 13 bulan, alhamdulillah jalannya udah lancar, walau sesekali masih suka terjatuh. Mulai lancar jalan baru kira-kira seminggu ini.

Ada perubahan yang sangat terasa pada diri Tole. Sekarang Tole sudah bukan bayi lagi, sudah menjelma menjadi seorang anak kecil. Yang membuatku terpukau, Tole makin pinter berinteraksi, makin mengerti kalau diajak bicara. Contohnya :

  • Mama : Kuping mana?
    Tole : Pegang kuping
  • Mama : Hidung mana?
    Tole : bengong… bengong
    Mama : Ngup*l gimana?
    Tole : Langsung masukin jari kehidung [haduhhh entah belajar dari mana]
  • Habis kejedut Tole langsung usap-usap kepala dan ngadu ke mama
    Tole : uh uh..
    Mama : Aduhhh kejedut ya.. yang sakit mana?
    Tole : Langsung usap-usap kepala belakang [ga peduli yang kejedut bagian manapun yg diusap selalu kepala belakang :) ]
  • Tole : uh.. uh [sambil menyodorkan tangan kedepan, telapak tangan yang satu dibawah telapak tangan satunya, wajah memelas]
    Mama : Minta apa Nak? [hehe kalo udah begini ga tega kalo ga dikasih]
  • Tole : [Gigit barang bukan makanan]
    Mama : Makan apa itu, dilepeh.. peh peh..
    Tole : [melepeh apapun yang ada dalam mulutnya sambil menjulurkan lidah]
    Mama : [bernafas lega kembali, untung Tole sudah mengerti konsep melepeh ini sejak lama, jadi ga perlu ngorek2 mulutnya dengan paksa kalo Tole makan yang aneh2]
  • Tole : [Mau keluar kamar]
    Mama : Mau kemana? Pake sandalnya dulu dong, ambil sandalnya
    Tole : [Ambil sandal sambil injek sandal dengan maksud mau pake sandal sendiri]
    Mama : Sini mama pakein, duduk dulu disini [sambil nunjuk ujung kasur]
    Tole : [dengan patuh duduk dan nunggu dipakein sandal]
  • Jeleknya kalo mau sesuatu, pasti pake acara teriak2 dan kalo ga dikasih bisa nangis. Dan sangat sulit untuk berbagi barang dengan orang lain. Mama masih cari cara untuk mengajarkan Tole berbagi dan mengurangi sifat ambek-nya itu

Bahagia tak terkira kalo Tole merespon mama, baru sadar kalo Tole sudah gede, sudah bukan bayi lagi :)

Posted in Tole
Leave a comment