Dolanan Tole

Hari-hari terakhir ini Tole punya dolanan baru, tapi sayangnya dolanan ini tidak maskulin, tidak macho, tidak perkasa, yah ‘tidak laki-laki’ lah pokoknya.

Saat ini Tole sedang hobi sekali meniru segala macam tingkah laku orang-orang disekitarnya. Dan berhubung di penitipan teman-temannya perempuan semua, jadilah Tole ikut meniru segala macam permainan para perempuan cilik itu. Dolanan baru yang sedang digandrungi Tole saat ini pun imbas dari aksi tiru tersebut. Teman-teman perempuannya hobi gendong boneka dengan menggunakan kain panjang, mirip kayak ibu-ibu gendong bayi pake jarit. Nahhh sekarang tiap kali liat boneka bebeknya, Tole pasti langsung sibuk nyari kain dan minta dipakaikan, agar ia bisa menggendong boneka bebeknya tersebut.

Kalau sudah gendong boneka Tole langsung putar-putar rumah mengajak ‘anaknya’ jalan-jalan. Kadangkala ia juga akan menyuapi ‘anaknya’ itu. Dan kalo kita bilang “Disayang ya anaknya”, Tole akan mengusap-usap kepala boneka bebek tersebut.

Sebenarnya banyak yang protes akan dolanan baru Tole ini. Mereka bilang ga pantas anak laki main boneka. Coba dikasih mobilan, robot-robotan, pistolan, pedang-pedangan.

Awalnya aku juga sempat takut kalo dolanan barunya ini akan membuat Tole jadi kemayu, bertingkah laku mirip perempuan. Tapi setalah aku amati, banyak juga nilai positif yang bisa diambil dari dolanan ini. Contohnya saja tentang interaksi dalam memahami perintah. Saat menggendong bonekanya sering aku kasih perintah-perintah sederhana seperti :

Mama : “Waaa bebeknya haus coba dikasih susu”
Tole : ambil botol minyak telon, didekatkan ke mulut bebek sambil bilang “ncek ncek ncek” (maksudnya meniru suara orang saat mengecap makanan)

Mama : “Eh bebeknya belom sikat gigi ya. Ayo giginya disikat”
Tole : ambil sikat botol dan mulai menggosok mulut bebek dengan sikat tersebut.

Mama : “Bebeknya lapar tuh, mana makanannya?”
Tole : ambil mangkok dan sendok lalu mulai menyuapi bebeknya, tak lupa sambil bilang “ncek ncek ncek”

Memang sih awalnya Tole tidak langsung paham akan semua perintah itu. Misalnya saat disuruh kasih minum bebeknya, dulu pertama kali mama yang memberi contoh kasih minum pake botol minyak telon, mirip seperti bayi menyusu, dan akhirnya Tole meniru mama. Begitu juga dengan beberapa tanggapan lain atas perintah yang diberikan, sebelumnya mama memberi contoh dan akhirnya Tole mengikuti.

Namun adalakanya tanpa diajari, Tole dapat memberi tanggapan terhadap interaksi yang diberikan. Contohnya kemarin sore, saat main gendong boneka tersebut, mama bilang “Eh Pak anaknya nangis ya, duh kaciaaan” Eh tanpa disangka Tole langsung melihat muka bebeknya untuk memastikan boneka tersebut benar nangis atau tidak.

Heaaa, gendong anak, gendong anakputar-putar gendng anaksusah difotonya, gerak terusDisuruh kasih minum bebek eh malah Tole yang minumWaktu mama bilang, bebeknya nangis, Tole langsung periksa muka bebekKeluarin bonekanya, udah bosen mainan ini

Dolanan Tole

Setelah melalui pengamatan panjang dan pemikiran mendalam, tampaknya aku tak perlu terlalu khawatir tentang dolanan baru Tole ini. Dolanan ini tak lantas membuat Tole jadi kemayu, karena tak tiap saat Tole memainkan permainan perempuan. Adakalanya ia main bola, main mobilan dan binatang-binatangan.

Menurutku tak ada salahnya anak laki main permainan anak perempuan, selama bisa mendatangkan hal positif dan pembelajaran. Aku pribadi lebih suka membiarkan Tole gendong boneka daripada menembakkan senapan atau pun mengayunkan pedang. Tak ingin rasanya menanamkan perkelahian dalam dirinya.

Tiap orang tua pasti punya pola pengasuhan yang berbeda terhadap anak-anaknya. Dan kita tak bisa menghakimi pola pengasuhan mereka salah dan mengklaim pola pengasuhan yang kita terapkan adalah yang terbaik. Karena menurutku tiap anak itu unik, mereka butuh pola pengasuhan yang unik juga untuk tiap individunya. Mudah-mudahan pola pengasuhan yang kuterapkan adalah pola pengasuhan yang terbaik untuk Tole.

Posted in Tole
Leave a comment

Pemeran Ayah Pengganti

Hari ini di status jejaring sosialku tertulis : “Dicari : Pemeran ayah pengganti untuk Tole”. Dan ternyata ada teman yang protes. Begini kutipannya,
Him : what da… pengganti ayah? yang bener aja lu
Him : ati2 klo ngomong
Me : kan cuma “PEMERAN”, dibaca baik2 dong kalimatnya
him : ga asik kata2nya
Him : kenapa ga “Miss u dad” aja
Him : ‎”pengganti” kurang enak di dengar
Me : thanx for the correction

Sebenernya, ga cuma “thanx for the correction” yang ingin ku tulis disitu, ada puluhan kalimat sanggahan yang ingin ku katakan, biar dia mengerti, mengapa sampai tercetus status seperti itu. Tapi aku sadar, dia tidak berada di posisiku, puluhan kalimat yang aku tulispun mungkin tak akan membuatnya mengerti. Dan disisi lain, aku tidak berada di posisinya sebagai ‘ayah’ yang mungkin merasa tersinggung ketika ‘perannya’ digantikan orang lain.

Statusku tadi bukan lah sebuah protes yang ditujukan pada Ayah Tole karena absennya ia dalam beberapa fase kehidupan Tole. Status tadi hanya sebuah gambaran dari kegundahan seorang ibu yang menyaksikan betapa sang anak merindukan ayahnya.

Ceritanya berawal kemarin. Ditempat penitipan, ketika salah seorang anak diantar ayahnya kesana, tiba-tiba saja Tole langsung minta gendong sama ayah temannya tersebut, setelah digendong Tole ga mau turun dan menangis waktu ditinggal. Kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi. Tak biasanya Tole minta gendong orang yang belum terlalu ia kenal. Pengasuhnya bilang, mungkin Tole kangen Ayahnya.

Saat mendengar cerita tersebut, sedih rasanya. Ternyata sosokku sebagai seorang ibu tak pernah bisa menggantikan peran seorang ayah.

Sebenarnya sejak lahir, bahkan sejak dalam kandungan, Tole sudah terbiasa ditinggal ayah keluar kota. Sudah resiko mempunyai ayah seorang pekerja lapangan. Selama ditinggal, tidak pernah ada kejadian yang mengindikasikan kalo Tole kangen Ayah, entah itu sakit atau rewel. Jadi selama ini aku mengira Tole baik-baik saja tanpa kehadiran seorang Ayah disampingnya. Namun kejadian kemarin membuat pemikiranku berubah. Bagaimanapun sosok seorang Ayah sangat penting menemani hari-harinya. Ditambah lagi, sudah 3 hari ini Tole agak demam, padahal tidak pilek atau sakit apa pun. Mungkin salah satu indikator juga kalau Tole kangen ayahnya.

Saat ini karena alasan pekerjaan, sangat mustahil meminta Ayah pulang dan mengobati rasa kangen Tole. Sebagai seorang istri aku memaklumi kondisi tersebut. Tapi sebagai seorang ibu, ingin sekali rasanya memaksa Ayah untuk pulang saat ini juga. Tak peduli dengan pulang berarti ayah harus meninggalkan pekerjaannya, dipotong tunjagan, dimarahi atasan, atau bahkan yang terburuk dipecat gara-gara melalaikan tanggung jawab. Rasanya sudah tak peduli lagi atas semua konsekuensi itu, asalkan rasa rindu Tole terbayar lunas.

Tapi logika dan rasio kembali menarikku ke alam sadar. Kembali mendudukkan ku sebagai seorang istri yang harus mendukung karir suami. Mengesampingkan segala kesulitan yang harus aku hadapi tanpa kehadiran seorang Ayah disamping Tole, seorang suami disamping istri.

Sudah resiko….
Sabar….
Ini hanya sebuah fase yang harus dijalani dalam hidup ini….
Nanti juga ada waktunya kalian semua akan berkumpul dan tak terpisah lagi.

Itu sedikit kalimat yang sering kuucapkan dan kutanamkan dalam hati, sebagai penguat untuk menjalani hari tanpa sosoknya disisi. Adakalanya kalimat itu berhasil menjadi pemompa semangat, tapi ada kalanya kalimat-kalimat tersebut hanya sebuah kalimat klise yang tak berari apa-apa, seperti saat ini.

Begitulah, kurang lebih hal yang mendasari munculnya status di jejaring sosialku. Mungkin benar seperti yang dikatakan temanku, tak pantas mencari pengganti, walau itu cuma sekedar ‘pemeran pengganti’ dan bukannya ‘pengganti ayah yang sesungguhnya’. Namun dengan kondisi saat ini, tak kuiindahkan segala tak kepantasan tersebut. Demi memuaskan rindu Tole, ingin rasanya kuhadirkan sosok “pemeran ayah pengganti untuk Tole”.

Posted in just me, Kisah Hidup, My Lovely Hubby, Tole
2 Comments

15-month-old: Week 2

Sejak beberapa waktu yang lalu ikutan news letternya babycenter, lumayan, suka dikirimin email tentang perilaku baby kita sesuai umurnya. Dan hari ini kembali dapat kiriman email, yang isinya begini:

Whining and screaming: If your 15-month-old has started sounding like a hyena or worse, you’re experiencing his intense desire to interact with you. Children thrive on their parents’ attention, and a toddler this age will do just about anything to get yours. When he gets loud or whiny, kneel down to your child’s level and tell him you’re listening. If he keeps it up, calmly say, “I can’t understand you when you talk like that. Please use your normal voice and I’ll be happy to listen to what you’re saying.” Eventually, he’ll get the message.

Dan ternyata diriku merasakan hal seperti yang dituliskan tersebut. Akhir-akhir ini Tole emang hobi banget minta perhatian dari mamanya. Kukira itu imbas karena awal desember kemarin Tole sempat aku tinggal dinas 3 hari. Sejak saat itu Tole jadi ‘lengket’ dan ga mau jauh-jauh dari mama. Dan imbas yang lain Tole jadi suka berteriak kalau tidak diberi perhatian lebih. Setelah baca kutipan artikel dari babycenter tersebut, jadi kembali tenang. Ternyata itu hal yang wajar. Hanya suatu fase yang harus dilewati Tole.

Sekarang hanya harus sering-sering mengingatkan diriku untuk tetap bersabar, tetap ceria, menanggapi segala tingkah laku Tole. Sejauh ini [walau sebelumnya belum baca artikel diatas], sudah menerapkan metode seperti yang disarankan. Kalau Tole sudah mulai teriak-teriak cari perhatian, biasanya otomatis aku akan menanggapi dengan ‘Ada apa nak..’, tapi kadang tidak sampai kneel down dihadapan Tole sih, coz biasanya cukup aku tanggapi dengan kalimat ‘Ada apa nak…’ (lanjutannya tergantung situasi saat itu, misal : ‘Ada apa nak, gatel ya? digigit nyamuk?’ atau ‘Kenapa Nak, sakit kepentok? Mana yang kepentok?’) Tole biasanya sudah tidak teriak-teriak lagi dan menanggapi respon pertanyaanku tersebut (misal kalo kepentok dia langsung menghampiri dan menujukkan bagian yang kepentok untuk kemudian minta diusap).

Oh iya membahas soal kepentok ini. Seriiiing sekali Tole kepentok. Kebanyakan sih kepentok ringan dan tidak meninggalkan bekas lebam. Indikasinya kalau Tole kepentok dan tidak menangis itu berarti insiden tersebut tidak akan meninggalkan bekas, tapi kalau sampai memangis pasti ada bagian yang biru lebam atau pun berdarah. Sekarang Tole sudah mengalami kemajuan kalau kepentok. Dulu tiap kai Tole laporan kepentok dan ditanya bagian mana yang sakit, dia pasti usap-usap bagian kepala, ga peduli mau kaki, tangan atau bagian tubuh lain yang kepentok, pasti yang diusap bagian kepala. Tapi sekarang beda, Tole sudah dapat menunjukkan tempat yang ia rasa sakit.

Saat ini selain teriak, ada satu kebiasaan jelek lainnya. Yaitu memukul. Saat ada keinginannya yang tidak kesampean, Tole pasti akan memukul. Yang paling sering terjadi adalah saat selesai mandi. Tole hobi sekali maen air. Dan begitu acara mandi dan main airnya harus berakhir, Tole langsung ngambek. Sampe harus digendong paksa dari kamar mandi. Dan saat digendong itulah biasanya Tole berteriak dan memukuli mama. Seringkali tiap kejadian memukul tersebut aku selalu memberitahu untuk tidak melakukan itu [misal : "jangan pukulin mama ya, mama kan sayang sama icam"]. Kadang teknik itu berhasil, tapi kadang juga gagal. Seringnya penyebab gagal apabila saat kejadian Tole sebenarnya sudah mengantuk, jadi moodnya ikutan jelek, dan kekesalannya bertambah-tambah.

Saat ini Tole juga sudah mulai pandai memahami perintah. Biasanya kalau sedang pegang sesuatu aku sengaja minta Tole untuk menunjukkan benda tersebut pada Oong (kakeknya) yang berada di ruangan lain, dan dengan patuh dia akan melakukannya. Dan paling senang kalau setelah itu dapat tanggapan. Begitu juga kalau kepentok, sehabis mengadu sama mama biasanya Tole juga mengadu sama Oong, tujuannya cuma satu biar dapat perhatian.

Hal lain yang tak bosan dilakukan adalah maen sekolah-sekolahan. Tiap kali liat tas atau barang yang bisa dicangklong di bahu, maka dengan semangat Tole akan mencangklongnya di bahu dan menjulurkan tangannya ke orang-orang terdekat, maksudnya, mau salim, cium tangan pamit mau berangkat :D

Begitulah kelakuan Tole di usia 15 bulan 2 minggu. Moga tulisan ini akan jadi kenangan yang indah sampai nanti….

Posted in Tole
Leave a comment

Resolusi 2012

Hari ketiga di bulan Januari tahun 2012. Harusnya hari ini sudah dapat menentukan resolusi yang ingin dicapai, namun nyatanya semua masih mengawang-awang. Tahun 2010 dan 2011, punya 4 resolusi, yaitu :

  1. Pengen sekolah lagi
  2. Pengen punya anak
  3. Pengen punya rumah sendiri
  4. Pengen rajin nulis

Dua tahun sudah terlewati sejak keempat resolusi tersebut diikrarkan, kenyataannya? Baru SATU resolusi yang dicapai. Sudah 2 tahun berjalan masih hutang 3 resolusi :

  1. Pengen sekolah lagi
  2. Pengen punya rumah sendiri
  3. Pengen rajin nulis

Hutang pertama : Pengen sekolah lagi, sebenarnya sudah coba diwujudkan tahun lalu, segala daya upaya sudah dikerahkan, tapi apa daya, Tuhan berkehendak lain, belum berhasil lolos seleksi beasiswa. Tampaknya harus coba lagi tahun ini, tapi kok jeleknya, semangatku di awal tahun ini begitu rendah, hampir2 tak ada keinginan untuk cari beasiswa lagi. Huffft, mudah2an semangat rendah gini gak bercokol lama2.

Hutang kedua : Pengen punya rumah sendiri, resolusi ini pun seharusnya sudah dapat terwujud tahun 2011. Seharusnya tanggal 27 Desember 2011 sudah serah terima kunci, tapi kenyataanya pembangunan mengalami keterlambatan, jadilah sampai hari ini resolusi ini belum terwujud juga. Mudah-mudahan bulan ini, atau awal bulan februari sudah dapat terwujud.

Hutang Ketiga : Pengen rajin nulis, untuk hutang yang satu ini kayaknya ‘agak lumayan’ terwujud, karena kalau dilihat secara statistik ada peningkatan.
2011 : 43 postingan
2010 : 10 postingan
2009 : – postingan [hik hik menyedihkan]
2008 : 5 postingan
2007 : 13 postingan
Mudah-mudahan 2012 bisa lebih dari 43 postingan yang ditulis di blog ini.

Karena masih begitu banyaknya hutang resolusi, tadinya ga mau bikin resolusi baru di tahun 2012, biar fokus mewujudkan hutang resolusi terlebih dahulu. Tapi ada beberapa hal yang urgen dan harus di wujudkan di tahun ini, jadi dimasukin jadi tambahan resolusi deh biar lebih semangat mewujudkannya.

  1. Pengen bisa stir mobil
  2. Pengen punya mobil sendiri
  3. Pengen bisa ngajukan point prakom di tengah tahun

Mudah-mudahan tambahan 3 resolusi ini bisa terwujud dan tak menjadi hutang di tahun berikutnya.

Posted in just me
Leave a comment

Progress Rumah – Ganti Tukang (lagi..)

Di posting sebelumnya sempet ditulis tentang bagus dan rapi-nya pekerjaan tukang yang sedang menggarap rumah kami. Entah karena karma, atau si tukang merasa keberatan keahliannya di ekspos disini [lebay..], terhitung 28 Desember kemarin tukangnya diganti (lagi). Hik hik sedih juga harus berpisah dengan kumpulan tukang yang handal tersebut, tapi apa mau dikata, disini kontaktor yang punya kuasa, mereka yang ngurusin masalah tukang ini.

Padahal pekerjaan sudah tinggal sedikit lagi, sebagian besar tembok sudah di plester, tinggal di aci, maka selesailah pekerjaan dinding. Setelah itu rencanya pasang rangka atap baja ringan. Namun setelah dikonfirmasi kemarin, pasang atap ini terpaksa ditunda karena mau mengecor atap kamar mandi lantai 2 terlebih dahulu. Setelah atap selesai tinggal pasang keramik dan finishing. Eh setelah dirinci ternyata masih panjang juga ya pekerjaanya. Duh bisa selesai ga ya bulan januari ini…

Sebelumnnya memang kami mendesak pihak developer untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, namun melihat kondisi di lapangan, kami bersyukur juga rumah kami terlambat penyelesaiannya. Karena saat ini jalan didalam lingkungan baru berupa batu yang dipadatkan ditanah. Trus kanan kiri rumah-rumahnya masih dibangun, jadi jangan ditanya masalah debu yang ditimbulkan. Yah segala sesuatu memang selalu ada sisi baik dan buruknya.

Berikut hasil pantauan terakhir tanggal 28 Desember 2011.

kamar atas mengarah ke kamar mandikamar atas mengarah ke ruang depan tanggakamar mandi atas - belum di plesterbagian dalam kamar mandi atas - masih belum diplesterdinding atas tanggaruang atas depan tanggaruang atas depan tanggadinding dekat kamar mandi - ga sejajartembok depan tangga - belom di plestertangga - ga jadi dibolongindapur - tiangnya udah di coratap atas - papan belum dibersihkankamar bawahatap bagian kamartampak depansebagian besar sudah diplestertampak depanini loh cor atas jendela yang tugeltampak sampingsamping lagi - bagian luar kamar mandi ga di plester

Progress Rumah Per 28 Desember 2011

Posted in Rumah Idaman
Leave a comment