Pengalaman pertama harus bedrest, juga pengalaman pertama masuk Rumah Sakit.
Awal bulan april kondisi kehamilan membuatku harus bedrest di rumah sakit. Waktu itu aku sempat mengalami pendarahan, bukan sekedar vlek, tapi benar-benar keluar darah seperti saat haid. Saat kejadian itu benar-benar panik, suami jauh, ga ada temen untuk ikutan diajak panik. Segala pikiran jelek sudah berkecamuk. Memang sejak awal kehamilan aku sudah dibayang-bayangi kecemasan akan keguguran. History dalam keluarga banyak yang mengalami keguguran, aku takut itu sindrome yang dapat menurun.
Tiba di rumah sakit, bukan jam praktek dokter kandunganku, akhirnya ditangani bidan. Pada saat pemeriksaan awal tersebut sang bidan agak lama menemukan detak jantung bayiku, bener-bener saat menegangkan, dan sangat membahagiakan saat pertama mendengar kembali detak jantung itu. Tapi aku belom boleh tenang dulu, karena menurut pemeriksaan ada sedikit pembukaan pada mulut rahim, dikhawatirkan kalau terjadi kontraksi pembukaannya bisa tambah besar. Dan untuk mengurangi segala resiko sejak saat itu juga aku diwajibkan untuk bedrest.
Awalnya aku kira bedrest tuh, banyak istirahat ditempat tidur, ga boleh banyak beraktifitas tapi masih boleh turun dari tempat tidur untuk sekedar ke kamar mandi. Ternyata salah besar! Pengertian bedrest menurut definisi para suster adalah tidur telentang dan ga boleh banyak gerak. Jangankan turun dari tempat tidur, duduk aja ga boleh, dan tidur miring pun harus dibatasi. Duh mana tahan, karena aku merasa kondisiku sehat tapi ga boleh ngapa-ngapain. Tapi demi sang buah hati, aku rela melakukan apa pun.
Dua hari aku istirahat dalam kecemasan. Karena sejak mengalami pendarahan itu kondisi bayiku baru didapat dari hasil mendengarkan detak jantungnya saja, belum di USG. Memang saat itu sudah tidak terjadi pendarahan, tapi masih terdapat vlek, jadi aku masih belum boleh turun dari tempat tidur sama sekali. Padahal alat USG ada di ruang periksa lantai 2. Jadilah dalam dua hari itu aku berdoa dan benar-benar berharap bayiku baik-baik saja didalam sana.
Hari ketiga baru aku di USG. Terakhir kali aku di USG, usia kandungan baru mencapai 5 minggu, saat itu janinku hanya berupa sebuah titik sebesar 2 mm. Dan saat aku di USG untuk kedua kalinya itu usia kandungan 13 minggu, saat itu aku hanya berharap menemukan bayiku dalam bentuk kecambah kacang. Tapi apa yang aku lihat di layar ternyata benar-benar menakjubkan. Janinku sudah berbentuk seperti bayi utuh. Tak henti ku ucapkan subhanallah, aku benar-benar takjub, baru benar-benar tersadar, didalam tubuhku sudah ada sesosok bayi mungil, saat itu besarnya baru 8 cm, tapi bentuknya sudah utuh dengan kepala, badan serta dua kaki dan tangannya.
Sejak melihat keberadaan bayiku itu, aku baru benar-benar disadarkan besarnya karunia yang diberikan padaku, besarnya keajaiban yang sedang kualami. Dan peristiwa yang hampir membuatku keguguran, membuatku tersadar besarnya nikmat dan amanah yang hampir kusia-siakan. Sebelumnya aku cuma sekedar ‘tahu’ kalau aku hamil, sekedar bersyukur tapi tidak benar-benar dari hati terdalam, aku belum merasakan kahadiran bayiku, belum benar-benar sadar ada sesosok makhluk mungil yang hidup bersamaku, tumbuh didalam diriku. Tapi sejak melihatnya, aku langsung jatuh cinta. Tak ada hal lain yang bisa menggantikan kehadirannya. Sebelumnya aku sempat menyesal kehilangan kesempatan untuk sekolah lagi karena alasan kehamilanku, tapi sekarang ditawari 1000 kesempatan untuk sekolah lagi pun akan ku tolak bila harus ditukar dengan kehamilanku ini. Aku juga malu selama ini sering mengeluh karena rasa mual yang harus kualami. Tapi sekarang rasa mual itu rasanya bukan suatu hambatan besar. Demi sang buah hati, aku rela jalani apa pun.
He hasn’t borned yet, but im already in love with him