Dunia Kerja

Ga kerasa sudah satu tahun aku merasakan dunia baru, dunia kerja..

Dulu jamannya kuliah pengen banget cepet-cepet lulus, trus kerja, dapet duit sendiri, biar bisa beli apa pun yang aku mau, biar bisa jalan-jalan ke mana pun aku pengen pergi. Tapi setelah satu tahun menapaki dunia kerja, kok rasanya aku malah merindukan saat-saat kuliah dulu…

Dulu rasanya begitu bebas, pengen jalan-jalan ya tinggal pergi, ga perlu susah-susah bikin rencana dan menyesuaikan jadwal, karena dulu begitu banyak waktu luang yang ku punya. Kalo lagi ada beban pikiran ya tinggal kumpul with my best friends, curhat ampe puasss, trus abis itu ketawa-ketiwi lagi… Mau melakukan apa pun ya tinggal lakukan yang aku suka, karena dulu aku hidup untuk diriku sendiri… Rasanya begitu bebas, tanpa tanggung jawab…

Satu tahun di dunia kerja..

Ternyata dunia ini ga seindah yang aku bayangkan. Khususnya kalo udah dikaitkan dengan politik di kantor. Dulu idealisme-ku begitu besar, aku begitu percaya kalo kita punya kemampuan kita pasti bisa ‘survive’ di dunia kerja. Tapi ternyata kemampuan aja belom cukup. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, bisa jadi bagian dari teamwork, dan yang paling penting harus menunjukkan LOYALITAS.

Loyalitas disini dalam artian loyalitas terhadap atasan, si BOZ. Benernya cuma ada dua aturan yang harus diterapkan berkaitan dengan masalah loyalitas terhadap si Boz.
Rule Number One :
Si Boz Selalu Benar
Rule Number Two :
Jika si Boz melakukan kesalahan, maka lihat kembali Rule Number One

Ada yang berpikir kalo itu cuma omong kosong? Nope.. its not only bullshit. It happen in real live, my live. Aku benernya udah tau ada dua aturan dasar tersebut, tapi kok ya sulit banget mengimplementasikannya. Apalagi kalo kita berpikir si Boz emang salah. Sekarang coba tempatkan posisimu di tempatku, kejadiannya begini : Tiba-tiba kamu disuruh menghadap si Boz, lalu tanpa basa-basi si Boz langsung mengintrogasi dengan disertai bentakan, introgasinya tentang suatu peristiwa yang kamu tau pasti bahwa kamu sama sekali tidak bertanggung jawab atas peristiwa itu. Secara naluri kamu pasti akan membela diri, kalaupun kamu memang salah tapi secara naluri kamu pasti akan membela diri, ya setidaknya karena merasa ga pantas untuk di bentak2. Kamu akan berpikir ‘Kenapa sih dia ga tanya secara baik-baik aja!’. Keadaan semakin diperparah karena selama ini kamu ngerasa ada hak-hak mu yang tidak dipenuhi, padahal kamu sudah melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati. Kamu ngerasa kamu belum sejahtera di bawah pimpinannya. Nah bertambah-tambah deh tuh kekesalan pada si Boz. Bila kamu berada di situasi itu bisa ga kamu masih menunjukkan ‘loyalitas’mu?? Bisa ga kamu tetap untuk tidak emosi, bisa ga kamu tetap tersenyum, bisa ga kamu tetap menjawab dengan sabar setiap pertanyaan si Boz yang diajukan dengan nada 7 oktaf tersebut? Sulit rasanya kan??

Tapi sekarang mari kita coba posisikan diri kita pada tempat si Boz. Karena rasanya ga adil kalo kita hanya melihat cerita hanya dari satu sisi saja. Kejadiannya begini : Ada satu proyek besar yang kemungkinan akan gagal dikarenakan ada sebagian karyawan mu yang menentang kamu, karena mereka berpikir kamu tidak kredibel, kamu tidak pantas menangani proyek itu. Kamu merasa kamu sudah di khianati. Bagaimana bisa karyawan yang selama ini kamu gaji sekarang malah menentangmu. Dimana rasa terima kasih mereka, dimana rasa hormat mereka, dimana loyalitas mereka. Padahal kamu tau, kamu punya kekuasaan untuk memecat mereka kapan saja kamu mau, tapi toh kamu tidak memecat mereka. Seharusnya mereka sadar akan hal itu, seharusnya mereka mengikuti apa pun yang kamu perintahkan, seharusnya meraka ga usah banyak bertanya dan membantah. Hei you are the Boz, you can do anything, YOU NEVER WRONG ! Karena pikiran-pikiran itu, kamu kemudian mulai mencari pelaku, siapa dalang semua ini, siapa person yang paling menentangmu, siapa pemimpin dari semua aksi pemberontakan ini. Kamu mulai mengintrogasi orang secara membabi-buta, mulai melakukan politik devide at impera, mencari celah agar ada satu orang saja yang berkhianat dan menyebutkan siapa dalang semua ini…

Nah bagaimana kalo kejadiannya kayak skenario diatas. Sebagai karyawan apa yang akan kamu lakukan? Masih bisa kah kamu mengimplementasikan dua aturan dasar itu?

I tell you what i did. Sebagai seseorang yang masih sangat baru dalam dunia kerja, idealisme dan ego-ku masih sangat tinggi. Aku masih berprinsip, kamu harus memperjuangkan apa yang kamu anggap benar, kamu harus memperjuangkan semua hak-hak mu, ga peduli kalaupun apa yang kamu perjuangkan itu bertentangan dengan si Boz, ga peduli kamu harus membantah pendapat si Boz. Yup im doing the battle, its a war between me and the Boz. Dan apa yang aku dapat dari peperangan itu? Cuma sebuah KEKALAHAN…

Nyatanya dari argumentasi yang terjadi, ga ada satu pun omonganmu yang didengar si Boz, tiap pendapat yang kamu ungkapkan dibantah mentah-mentah. Ternyata ego mu masih kalah kalo dibandingkan dengan ego si Boz. Si Boz masih tetap saja bicara segala macam hal yang jelas2 bertentangan dengan kenyataan yang ada. Dan tiap kali kamu berusaha untuk mengungkapkan kenyataan yang ada, si Boz kembali berargumen, mempertahankan pendapatnya, seakan-akan kenyataan yang kamu ungkapkan hanya ilusi, hanya imaginasi yang ada dikepalamu. Sampai akhirnya… Kamu mulai menyadari satu hal penting. Kalo kamu terus mendengarkan omongan si Boz lama-lama kamu akan percaya bahwa semua kenyataan yang kamu ungkapkan memang hanya ilusimu, lama-lama kamu akan mulai gila !

Bagaimana jika kamu mengalami hal itu? Berikut beberapa saran yang bisa aku share :

  1. Lakukan pengalihan perhatian, Jangan pandang wajah si Boz, apalagi menatap langsung ke mata-nya, karena kalo kamu lakukan itu dia akan berusaha untuk mengindimidasimu.
  2. Tidak usah dengarkan apa yang si Boz ucapkan. Memang sulit karena kamu punya telinga dan kamu tidak tuli, tidak mungkin tidak mendengarnya, tapi setidaknya tidak usah mencerna apa yang dia katakan. Tapi ini rasanya lebih sulit lagi, karena sebenarnya kamu ingin sekali mendengar apa yang ia katakan dan kemudian menentang-nya, menunjukkan segala kekeliruannya, menyadarkannya dari segala kesalahannya. Mungkin kah kamu lakukan semua itu? jawabannya: TIDAK MUNGKIN .
  3. Silence is a gold. Maka lebih baik diam, tutup mulutmu rapat-rapat. Karena tiap kata-kata yang kamu ucapkan tidak akan membawa dampak apa pun pada dirinya. Hal itu hanya akan memberi dampak pada dirimu sendiri. Semakin banyak bantahan yang kamu keluarkan hanya akan mendekatkan dirimu pada kemungkinan kehilangan pekerjaan.

Well, is there anyone out there who ever experince something like this before?? Give Your comment plz, lets share tips and tricks how to handle this…

Posted in perjuangan. Tags: . Bookmark the permalink.

5 Responses to Dunia Kerja

  1. mimir says:

    emang dunia kerja itu selalu gak bisa terduga…

  2. Amazing that we have the same name:) salam kenal!!!I live in Bogor, also work there in a consultancy company named Inspirit Innovation Circles.
    Betul!di dunia kerja kita mengeksplorasi sisi diri kita yang lain dan itu pembelajaran luar biasa=) kalau untuk aku belajar untuk selaras dengan kerja tim lahir dan batin pada awalnya tidak mudah, tapi dari hari ke hari semakin enjoy juga, menemukan makna diri kita yang baru di tengah-tengah orang lain, akhirnya ego jadi hanya nomor sekian, karena realitas kerja adalah kreasi tim, bukan hanya diri kita sendiri..maaf kalau komentarnya mungkin nggak nyambung ya Mbak, cuma seneng aja ketemu orang yang namanya sama, hehehe, sukses selalu untuk Mbak Intan!!

  3. jaxi says:

    Hidup memang seperi itu jeng, hal2 yg kita inginkan terkadang tidak sesuai dgn kenyataan.

    aku seh cuek aja & tetap semangat yaa:))

    aku di oil company di sudirman jeng

  4. mrcjr says:

    Assalamualaikum wr wb …

    Hm …. Hi bro …

    Gile loe … tadi pagi lo cerita kalo lo di terima di PNS, Thats the great thing u had bro … walaupun mungkin loe harus dulu masuk ke “Hutan rimba pertama” , tapi aku rasa loe pasti survive di sana :) nyatanya di sini aja loe bisa, malahan loe bisa bikin orang laen jadi semangat untuk belajar lagi dan lagi dan lagi … khusus nya aku … hehehehehe …..

    Mang seh kalo kita bilang ego dan idealisme itu kadang harus kita ilangin … tapi gak seratus persen kan bro, aku pernah di kasih tau ama mas emly , katanya gini “Loe harus bisa menyesuaikan adat loe sama lingkungan, tapi kalo menurut loe ga bisa, yah satu satunya jalan loe harus cabut dari tempat itu … “, isi nya kaya gitu dech … hehehehe lupa seh ….

    Toh sekarang aku juga sedang berusaha loh bro, bukan hanya diam diri, … insya4JJI aku dapatin tempat di mana 4JJI meridhoi nya … hehehehehe …… bukan berarti tempat-tempat ku yang pernah aku tempati itu bukan ridho lho , … karena menurut aku dimana tempat yang pernah aku tempati adalah tempat di mana aku belajar dan belajar … hehhehhe …

    sori neh jadi curhat … panjang yach .. ga apa lah …. loe kan orangnya baik hati lemah lembut dan rajin menabung serta minum milo …. hehehehehe

    Btw udah dulu dech …. ntar laen kali aku curhat lagi yach … eh salah kasih koment lagi yach …

    Wassalam Bro …

  5. riky riantoby says:

    jadilah diri kita sendiri ,,,,,,! no matter what people around say
    simple life with simple problem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>