Dulu sekali pernah posting, untuk mengobati batuk-pilek sebenarnya tidak perlu dibawa ke dokter, cukup istirahat dan banyak minum air putih, biar tubuh yang menyembuhkannya sendiri, bahasa kerennya self healing. Namun semua teori yang selama ini aku pegang runtuh seketika begitu menghadapi batuknya Tole 2 hari yang lalu.
Hari senin Tole sudah mulai batuk, namun intensitasnya masih jarang. Malamnya badan Tole panas tinggi, sampai mencapai 39 derajat. Begitu juga pada hari selasa, dari pagi sampai sore badan Tole masih panas tinggi, padahal sejak malam sudah dikasih sanmol dorps (mengandung paracetamol), namun obat penurun panas tersebut kali ini tidak ampuh menurunkan panas Tole. Efeknya hanya bertahan sekitar 3-4 jam, setelah itu Tole kembali panas tinggi. Karena panasnya yang tak kunjung reda, selasa malam, mama memutuskan untuk membawa Tole ke dokter. Dan kali ini lagi-lagi Tole tidak bisa konsultasi ke DSA langganan, karena jadwal praktek si ibu dokter baru ada rabu pagi. Akhirnya Tole kembali konsultasi ke dr. Eva. Padahal baru seminggu sebelumnya Tole mengunjungi dr. Eva gara-gara radang mulut.
Setelah diperiksa, Katanya Tole terkena radang tenggorokan dan diberi 2 buah obat :
Anafen SyrupTiap 5 ml Anafen Suspensi mengandung Ibuprofen 100 mg. Menurunkan demam pada anak-anak. Meringankan nyeri ringan sampai sedang, antara lain sakit gigi, sakit kepala,nyeri akibat pencabutan gigi, nyeri setelah operasi dan terkilir. Dosis yang direkomendasikan adalah 20 mg/kg berat badan/hari dalam dosis terbagi, sehari 3-4 kali. Tidak sianjurkan bagi anak-anak dibawah usia 1 tahun. [sumber : ini dan ini]- Alxil, merupakan antibiotik syrup kering. Indikasi untuk infeksi saluran pernafasan atas dan bawah, kulit dan jaringan lunak, saluran kemih dan infeksi lain seperti osteomielitis dan septic arthritis [sumber : ini].
Sama Dr. Eva, si antibiotik ini ikut dicampur dengan obat batuk dan pilek, jadi ga jelas lagi deh kandungannya apa aja.
Terus terang diriku agak dilema dengan pengobatan yang dilakukan Dr Eva. Pertama si dokter yang satu ini tidak banyak bertanya, dan waktu dia mengobservasi Tole pun cuma sebentar aja. Kedua, obat yang diberikan biasanya obat racikan, jadi kita tidak tau pasti kadungan didalamnya. Memang sih obat yang diberikan ini tergolong manjur, bahkan menurutku efeknya terlalu cepat, jadi sempat khawatir, obatnya memang manjur atau dosisnya yang terlalu tinggi.
Oh iya ada tambahan tentang obat penurun panas yang diberikan. Kandungannya ibuprofen, biasanya Tole cuma minum obat penurun panas dengan kandungan paracetamol, tapi sakit kali ini paracetamol tidak mempan, sudah diberikan sampe 3 kali, panasnya kembali tinggi setelah 3-4 jam. Dan setelah ke dokter diberikanlah ibuprofen ini. Dan benar-benar manjur, baru satu kali minum panasnya langsung reda. Yang menjadi catatan buat ibuprofen ini adalah obat tersebut dapat menyebabkan iritasi lambung dan pendarahan saluran pencernaan, jadi jangan diberikan bila anak muntah/diare.
Kemarin liat buku tumbuh kembang Tole. Dulu terakhir ke dokter tanggal 11-November-2011, setelah itu tanggal 21 Januari 2012 dan kemarin tanggal 1 Februari 2012. Dari 11 November ke 21 Januari, jaraknya 4,5 bulan. Dari 21 Januari ke 1 Februari jaraknya cuma 1.5 minggu. Duh sedih, dalam waktu sesingkat itu Tole harus 2 kali konsumsi antibiotik. Dilema, padahal selama ini diriku cenderung menentang penggunaan antibiotik untuk batuk pilek. Tapi karena panasnya yang tak kunjung turun dan sakitnya yang tak kunjung reda, akhirnya runtuh juga semua pertahanan diriku untuk menolak antibiotik.
Maapin mama ya Le, mudah-mudahan tindakan yang mama lakukan untuk menyembuhkan Tole udah tepat. Mudah-mudahan antibiotiknya tidak berlebih dan membuat resistan.
Cepet sembuh ya Le, biar mama ga khawatir lagi…




