Kesederhanaan Ayah

Ayah Tole Beberapa hari yang lalu lihat foto ini di jejaring sosial salah satu teman ayah. Dan dibawah foto tersebut tertulis komentar : “Wah hampir gak keliatan PC nya… harusnya taruh di tengah …” Yup diriku pun punya pemikiran yang sama, seharusnya posisi seorang party chief ditengah, biar jadi pusat perhatian, kan membawahi sekian banyak kru, seharusnya mendapat posisi yang terbaik. Tapi bukan ayah kalo mau tampil menonjol. Sejak pertama kali kenal dulu, ayah memang ga pernah mau tampil, sepertinya tak suka jadi pusat perhatian. Sederhana, tampil apa adanya, itu yang menjadi salah satu daya tarik ayah [setidaknya buat diriku].

Sejak dulu, bertahun-tahun sudah, mulai kenal dan berusaha memahami ayah, tapi sampai sekarang masih tetap ada saja tingkah laku dan ucapan ayah yang selalu membuatku terkejut. Contohnya tentang foto tersebut. Waktu aku komentar: “ayah kok difoto ga ambil posisi ditengah, kan ayah party chief”. Tadinya kukira ayah akan jawab : ‘ya nggak lah, ayah kan rendah hati, bersahaja, bla.. bla.. bla..’, pokoknya kalimat gombalan. Eh ga disangka ayah cuma jawab “ya gimana lagi, emang dapet posisinya disitu”. Sebuah jawaban yang sangat sederhana. Aku langsung tersenyum dengar jawaban itu. Typical ayah banget, sederhana dan apa adanya. Ga ambil pusing dengan yang namanya jabatan atau strata sosial, selalu nrimo.

Ayah… mudah-mudahan setinggi dan sepenting apa pun posisi ayah, tetap rendah hati seperti sekarang ya…

Posted in My Lovely Hubby
Leave a comment

Jalan-jalan Pagi

Tulisan ini dibuat untuk mengenang masa-masa indah ketika ayah punya banyak waktu bersama mama dan tole. Saat itu belum ada proyek baru dilapangan, jadi sebagian besar waktu ayah dihabiskan dirumah. Dan hampir tiap sabtu/minggu pagi, ayah-mama-tole jalan-jalan. Jalannya pun ga jauh-jauh, ke kawasan sebuah kampus di depan rumah.

Untuk sebagian orang mungkin ini bukan hal yang biasa. Hehehe secara, berminggu-minggu kami melakukan aktivitas tersebut, tak pernah sekalipun melihat orang lain yang melakukan hal yang sama. Untung saja ga pernah di protes sama satpamnya. Yang kami lakukan mungkin hanya sebuah hal sederhana, namun buat kami itu hal yang berkesan. Tak perlu keluar biaya, sudah dapat menghirup udara segar, menikmati kicauan burung dan pemandangan indah.

Biasanya acara jalan-jalan dimulai jam 1/2 6 pagi. Dengan berbekal roti, minuman, makanan yang garing-garing dan kadangkala nasi tim tole. Tole duduk manis disepedanya (karena saat itu tole belum bisa jalan), ayah dorong sepeda dan mama menenteng perbekalan makanan. Kita menyelusuri jalan di kampus tersebut yang bisa dibilang adem dan rindang. Sesekali kami berhenti untuk mengamati sekumpulan burung atau pun kucing yang sedang bersantai. Jalan lagi, tak lama kemudian menepi kembali untuk menikmati perbekalan. Sederhana, namun mendatangkan kebahagian luar biasa.

bobo dengan damaibobo di tamanmasih tetap bobo

Jalan-jalan Tole

Setelah capek bermain, kenyang makan, yang tersisa tinggal ngantuknya. Tole pun sampai tertidur dengan pulasnya.

Memori yang indah. Entah kapan bisa melakukannya lagi…

Posted in My Lovely Hubby, Tole
Leave a comment

Ayah Sayang Tole

Udah lama ga nulis cerita tentang ayah, padahal di blog ini ada satu kategori yang didedikasikan khusus untuk menampung cerita tentang ayah. Kali ini mama mau cerita betapa ayah begitu menyayangi Tole.

Mungkin merupakan suatu hal yang wajar bila seorang ayah begitu menyayangi anaknya. Namun menurut pendapat mama, rasa sayang ayah ke tole kadang terlalu berlebihan. Bahkan bila dibandingkan, mama dengan legowo mengakui, tole lebih disayang ayah dari pada mama.

Mainan Tole Gambar disamping dapat memperlihatkan betapa besar rasa sayang ayah buat tole. Gambar tersebut diambil disebuah kamar penginapan sesaat sebelum ayah berangkat jemput tole di tempat penitipan. Jadi saat itu kami terpaksa nginap di sebuah wisma dekat tempat penitipan tole karena mama lagi sakit. Dengan membawa mainan seadanya. Sore hari, ayah mau berangkat jemput Tole, dan sebelum jemput itu, ayah tak lupa menata mainan tole di sudut ruangan. Coba perhatikan gambarnya dengan lebih seksama. Mainan-mainan tersebut benar-benar ditata dengan rapi, dengan sepenuh hati. Bahkan botol aqua dan tutupnya pun ikut disiapkan, karena saat itu tole hobi sekali mainan buka tutup botol. Tujuan ayah menata mainan tersebut mungkin untuk membuat tole senang. Saat itu mama benar-benar terharu melihat tindakan ayah. Jujur mama pribadi tak akan melakukan hal itu, terpikirpun tidak.

Rasa sayang ayah yang lain ditunjukkan dengan kesabaran ayah dalam menghadapi tingkah laku tole. Sejauh ini tak pernah sekalipun ayah menunjukkan rasa kesalnya kepada tole. Tak peduli betapa lelahnya ayah, betapa bertingkahnya tole, tak pernah sekalipun keluar nada tinggi dari ayah, cuma senyum. Kesabaran ini yang seharusnya mama tiru. Karena adakalanya ketika rasa lelah mendera, batas kesabaran yang dimiliki mama seringkali menipis. Lihat tole bolak balik berantakin kamar bisa bikin mama emosi.

Dibalik rasa sayang yang berlebih ini ada juga sisi negatifnya. Ayah cenderung terlalu memanjakan tole, khususnya dalam hal membelikan mainan. Tak peduli berapapun harganya, asal itu buat tole, tanpa pikir dua kali ayah langsung setuju untuk membelikannya. Mama sudah pernah protes akan hal ini, namun ayah berdalih, semua itu dilakukan karena sedikitnya waktu kebersamaan ayah dengan tole. Sebagai seorang pekerja lapangan, seringkali ayah harus meninggalkan tole dalam waktu yang lumayan lama. Akibatnya begitu ada kesempatan untuk bersama tole, hal tersebut seperti digunakan untuk menebus setiap waktu yang hilang. Mudah-mudahan perilaku ayah yang terlalu memanjakan tole ini bisa mama kendalikan, demi kebaikan Tole juga, biar tidak tumbuh menjadi anak yang manja.

Posted in My Lovely Hubby, Tole
Leave a comment

Sariawan Tole

Sebenarnya sudah sejak lama punya cita-cita untuk mencatat segala riwayat sakit dan obat yang pernah di konsumsi Tole. Tapi karena selalu terlupa (dan kayaknya ga sering-sering banget Tole sakit) akhirnya baru kesampean sekarang.

Minggu lalu Tole sakit. Kalau diingat-ingat terakhir kali Tole sakit pas pertengahan puasa kemarin, udah hampir 1/2 tahun lebih. Alhamdulillah lebih sering diberi nikmat sehat. Awalnya hari kamis pagi seperti biasa Tole dianter ke day care, saat itu badannya sudah hangat. Ternyata saat dijemput sore badannya sudah panas. Pengasuhnya bilang siang sempat dikasih obat penurun panas karena panasnya mencapai 39 derajat. Sore itu Tole sudah terlihat lemas dan tidak bersemangat. Malamnya kembali panas dan diberi obat penurun panas lagi. Begitu juga dengan keesok paginya. Dan hari jumat itu, mama memutuskan untuk bolos ngantor, biar bisa merawat Tole. Alhamdulillah siang hari panasnya sudah turun. Jadi hanya sempat diberi obat penurun panas sebanyak 3 kali.

Walau panasnya sudah turun dan Tole kembali ceria seperti biasa, namun nafsu makannya tetap hilang. Tidak cuma makan, bahkan Tole pun menolak untuk menyusu. Saat itu memang bibirnya terlihat lebih merah dari biasa dan terus menerus mengeluarkan liur. Ternyata di gusi dan bibirnya ada sariawan kecil-kecil, kemungkinan di lidahnya juga, yang menjadi penyebab Tole menolak makan.

Karena khawatir dengan aksi tutup mulutnya ini, akhirnya sabtu pagi mama bawa Tole ke DSA langganan. Ternyata DSAnya itu sedang dinas ke yogya. Akhirnya ganti DSA, Dr. Eva. Setelah pemeriksaan yang sangat amat singkat, Dr. Eva mendiagnosa Tole terkena radang mulut dan diberilah 3 macam obat: antibiotik, vitamin dan obat sariawan. Berikut obat tersebut :

  1. Cefabiotic Syrup dari Bernofarm dengan harga eceran Rp. 48.125, merupakan antibiotik untuk Infeksi sal nafas atas termasuk sinusitis, tonsilitis & otitis media; sal nafas bwh, jar lunak & kulit, urogenital
  2. Betaford syrup dari Phapros, merupakan vitamin yang digunakan untuk menambah napsu makan setelah kondisi setelah sembuh dari sakit, komposisinya adalah vitamin B, A dan C
  3. CandistinCandistin Drop, dari pharos dengan harga eceran Rp. 40.563, merupakan obat sariawan yang penggunaannya dengan cara diteteskan di tempat sariawan dan aman bila tertelan

Awalnya mama agak ga sreg sama Dr. Eva Alasannya karena pas periksa sebentar banget, udah gitu ga banyak tanya tentang kondisi anak, tau-tau dikasih obat. Salah satu alasan memilih Dr. Eva ini karena dulu saat sepupu Tole sakit parah dan sudah bolak balik rumah sakit ga sembuh-sembuh, eh pas dibawa ke Dr. Eva ini akhirnya sembuh. Dan ternyata kejadian juga sama Tole. Baru konsumsi obatnya 1 kali, Tole sudah mau mulai menyusu lagi. Lega lah hati mama.

Untuk antibiotik memang harus dihabiskan. Sementara untuk vitamin dikonsumsi sampai napsu makan kembali normal, dan obat sariawan hanya bila sariawan saja. Bila tidak habis dikonsumsi, vitamin bisa bertahan sampai 3 bulan sementara obat sariawan bisa bertahan sampai 6 bulan.

Alhamdulillah sekarang Tole sudah sembuh dan nafsu makannya sudah mulai kembali normal. Sehat terus ya Nak!!

Posted in Kesehatan, Tole
Leave a comment

Dolanan Tole

Hari-hari terakhir ini Tole punya dolanan baru, tapi sayangnya dolanan ini tidak maskulin, tidak macho, tidak perkasa, yah ‘tidak laki-laki’ lah pokoknya.

Saat ini Tole sedang hobi sekali meniru segala macam tingkah laku orang-orang disekitarnya. Dan berhubung di penitipan teman-temannya perempuan semua, jadilah Tole ikut meniru segala macam permainan para perempuan cilik itu. Dolanan baru yang sedang digandrungi Tole saat ini pun imbas dari aksi tiru tersebut. Teman-teman perempuannya hobi gendong boneka dengan menggunakan kain panjang, mirip kayak ibu-ibu gendong bayi pake jarit. Nahhh sekarang tiap kali liat boneka bebeknya, Tole pasti langsung sibuk nyari kain dan minta dipakaikan, agar ia bisa menggendong boneka bebeknya tersebut.

Kalau sudah gendong boneka Tole langsung putar-putar rumah mengajak ‘anaknya’ jalan-jalan. Kadangkala ia juga akan menyuapi ‘anaknya’ itu. Dan kalo kita bilang “Disayang ya anaknya”, Tole akan mengusap-usap kepala boneka bebek tersebut.

Sebenarnya banyak yang protes akan dolanan baru Tole ini. Mereka bilang ga pantas anak laki main boneka. Coba dikasih mobilan, robot-robotan, pistolan, pedang-pedangan.

Awalnya aku juga sempat takut kalo dolanan barunya ini akan membuat Tole jadi kemayu, bertingkah laku mirip perempuan. Tapi setalah aku amati, banyak juga nilai positif yang bisa diambil dari dolanan ini. Contohnya saja tentang interaksi dalam memahami perintah. Saat menggendong bonekanya sering aku kasih perintah-perintah sederhana seperti :

Mama : “Waaa bebeknya haus coba dikasih susu”
Tole : ambil botol minyak telon, didekatkan ke mulut bebek sambil bilang “ncek ncek ncek” (maksudnya meniru suara orang saat mengecap makanan)

Mama : “Eh bebeknya belom sikat gigi ya. Ayo giginya disikat”
Tole : ambil sikat botol dan mulai menggosok mulut bebek dengan sikat tersebut.

Mama : “Bebeknya lapar tuh, mana makanannya?”
Tole : ambil mangkok dan sendok lalu mulai menyuapi bebeknya, tak lupa sambil bilang “ncek ncek ncek”

Memang sih awalnya Tole tidak langsung paham akan semua perintah itu. Misalnya saat disuruh kasih minum bebeknya, dulu pertama kali mama yang memberi contoh kasih minum pake botol minyak telon, mirip seperti bayi menyusu, dan akhirnya Tole meniru mama. Begitu juga dengan beberapa tanggapan lain atas perintah yang diberikan, sebelumnya mama memberi contoh dan akhirnya Tole mengikuti.

Namun adalakanya tanpa diajari, Tole dapat memberi tanggapan terhadap interaksi yang diberikan. Contohnya kemarin sore, saat main gendong boneka tersebut, mama bilang “Eh Pak anaknya nangis ya, duh kaciaaan” Eh tanpa disangka Tole langsung melihat muka bebeknya untuk memastikan boneka tersebut benar nangis atau tidak.

Heaaa, gendong anak, gendong anakputar-putar gendng anaksusah difotonya, gerak terusDisuruh kasih minum bebek eh malah Tole yang minumWaktu mama bilang, bebeknya nangis, Tole langsung periksa muka bebekKeluarin bonekanya, udah bosen mainan ini

Dolanan Tole

Setelah melalui pengamatan panjang dan pemikiran mendalam, tampaknya aku tak perlu terlalu khawatir tentang dolanan baru Tole ini. Dolanan ini tak lantas membuat Tole jadi kemayu, karena tak tiap saat Tole memainkan permainan perempuan. Adakalanya ia main bola, main mobilan dan binatang-binatangan.

Menurutku tak ada salahnya anak laki main permainan anak perempuan, selama bisa mendatangkan hal positif dan pembelajaran. Aku pribadi lebih suka membiarkan Tole gendong boneka daripada menembakkan senapan atau pun mengayunkan pedang. Tak ingin rasanya menanamkan perkelahian dalam dirinya.

Tiap orang tua pasti punya pola pengasuhan yang berbeda terhadap anak-anaknya. Dan kita tak bisa menghakimi pola pengasuhan mereka salah dan mengklaim pola pengasuhan yang kita terapkan adalah yang terbaik. Karena menurutku tiap anak itu unik, mereka butuh pola pengasuhan yang unik juga untuk tiap individunya. Mudah-mudahan pola pengasuhan yang kuterapkan adalah pola pengasuhan yang terbaik untuk Tole.

Posted in Tole
Leave a comment